Cara keren meningkatkan kompetensi diri

 

Bagaimana cara meningkatkan kompetensi diri? Pada suatu hari yang cerah tanpa awan, di kala kondisi santai dan udara sejuk dari AC kantor, tiba-tiba atasan datang kepada Anda dan memberi pekerjaan baru yang menurut Anda sulit dan lain dari biasanya. Apa reaksi Anda?

a. Maaf pak, kok kerjaannya lain dari biasanya, ngga salah niih?

b. Mencari seribu alasan untuk menghindar dan berargumen: Pak, kayaknya ini bukan scope of work saya, kayanya lebih tepat si B yang ngerjain.

c. Ok Pak saya kerjakan. Deadlinenya kapan?

Dalam kerjaan sehari-hari (apalagi terkait project), mungkin kondisi ngga selalu datar. Kadang low, kadang high. Kadang menghela nafas aja susah, di lain waktu masih bisa blogging sambil nyeruput kopi 😀

Dan itu terjadi pada saya hari ini. Kerjaan datang yang menurut saya mustahil (kalo ngga mau di bilang merepotkan). Kerjaan baru yang membuat saya harus membuka-buka lagi rumus pas kuliah. Dan terakhir saya pegang buku kuliah itu 5 tahun silam.

Awalnya saya sempet ingin bilang: Pak, kayanya ini ngga mungkin, sekalipun bisa butuh waktu lama. Atau mencari dalih bahwa seharusnya itu dilakukan oleh pihak lain (politik kantor yang kadang saya gunakan untuk menolak kerjaan, dan seringnya berhasil, he he..)

Tapi Tidak untuk kali ini. Saya berpikir dua kali untuk kali ini. Saya berpikir tentang kompetensi. Dan kali ini saya bilang: OK Pak, saya kerjakan, kapan deadlinenya? Dengan sedikit tambahan: Sebenernya saya masih ada kerjaan lain sih pak, tapi kalo nunggu kerjaan sebelumnya selesai, nanti yang ini ngga mulai-mulai dan ngga beres.

Sebenernya ada beberapa kelebihan ketika kita menerima kerjaan baru yang lebih sulit.

  1. Kita belajar ilmu baru dan hal-hal baru. Yang akhirnya menambah kompetensi diri. Kompetensi diri meningkat > Nilai meningkat. Kalo nerima kerjaan yang biasa aja berulang-ulang, artinya ilmu kita ngga nambah.
  2. Belajar ilmu baru membuat otak berkembang. Atau dalam bahasa saya otak lebih melar, he he.. Saya khawatir jadi cepet pikun kalo ngerjain hal-hal yang monoton terus setiap hari. Kreativitas menurun, daya pikir menurun.
  3. Melatih kita untuk berani mengambil tantangan. Tapi gimana kalo susah, kan bisa belajar. Orang aja bisa pinter dengan cara ngandelin informasi dari mbah google. Bisa jadi kita nolak itu karena males. Males untuk belajar.

Percayakah Anda bahwa belajar itu mengandung zat adiktif? Kemungkinan besar iya, sama halnya seperti programmer yang bisa lupa waktu karena ngoprek struktur kode. Karena apa? Karena curriosity. Karena ada passion di situ. Kadang passion itu ngga datang dengan sendirinya kalo ngga di coba dulu. Jadi kalo ada kerjaan baru atau hal-hal baru yang bisa dipelajari, Take it! Ngga akan mubazir waktu kok untuk belajar ilmu baru.

Bagaimana cara meningkatkan kompetensi diri? Ambil tantangan baru dan terus belajar!

Ada yang mau menambahkan? Silahkan komen di kolom kementar 😀

Leave a Reply