Dengan adanya kesulitan kita belajar

 

Mungkin masih jelas diingatan kita saat kita belajar sepeda diwaktu kecil. Seringkali kita terjatuh. Namun kita memang tidak menangis, saat orang bilang belajar naik sepeda itu memang harus jatuh dulu. Sampai kita pandai naik sepeda,  kita terlupa dengan proses itu.

Sama halnya dengan anak sekolah, hari demi hari dihabiskan untuk belajar. Demi melewati hari-hari penting yaitu saat ujian. Kenapa harus susah-susah belajar? Apakah boleh kita tidak belajar? Mungkin boleh, tapi cerita lulus saat ujian akan semakin semu.

Naik menjadi orang dewasa, kesulitan naik juga levelnya. Kesulitan finansial, permasalahan hubungan antar manusia, konflik kerja, beratnya beban kerja, dan banyak lagi kesulitan hidup. Harusnya menghadapi kesulitan itu semua bisa menjadi feedback bagi kita untuk belajar. Untuk apa? Untuk meningkatkan kualitas diri tentunya.

Mungkin masih familiar dalam keseharian kita, sebuah peribahasa, yang penting itu bukan seberapa sering kita jatuh, namun seberapa sering kita bangkit dari keterpurukan. Dan akhirnya kita tersadar, mungkin jatah kesulitan itu memang harus dihabiskan dulu. Supaya kita terlatih dan lihai dan menghadapi problematika hidup.

Lesson learn, dengan adanya kesulitan kita belajar, ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil:

a. Kesulitan datang adalah metoda peningkatan kualitas diri.

Walaupun mungkin rasanya ngga enak, terasa menghimpit, tapi itu akan membuat jiwa kita lebih kuat dari sebelumnya. Dengan adanya kesulitan, kita akan terbiasa untuk bersikap tenang, dan tidak terpacu emosi.

b. Memacu kita berpikir lebih kritis dan logis.

Pada saat kesulitan melanda, pikiran kita sempit, emosi kita meluas, logika terhambat. Namun semua itu adalah proses. Dikala kita tersadar, bahwa kita memiliki akal yang kita miliki untuk berpikir dan mencari solusi permasalahan.

c. Melatih kita untuk brainstorming ide untuk solusi permasalahan.

Terkadang solusi itu muncul disaat-saat sempit. Seperti halnya pekerjaan kantor yang bisa cepat selesai ketika dikejar deadline. Brainstorming, karena otak kita adalah gudang ide. Kata hanya memerlukan waktu tenang untuk berpikir.

d. Menyadari bahwa kadang kebahagiaan tidak ada korelasinya dengan kesulitan.

Bahkan kita masih bisa tersenyum saat menyadari terlalu banyak nikmat Tuhan yang kita terima. Tapi kita kurang menyadarinya.

Badai pasti berlalu, begitu istilah yang sering kita dengar. Walaupun tidak semua permasalahan bisa hilang dengan sendirinya, bila dibiarkan berlalu. Namun belajarlah menjadi manusia yang lebih kuat, cerdas, tegar. Mungkin dari situ solusi dan kebahagiaan akan datang.

Ada yang mau menambahkan? Silahkan komen di kolom komentar 😀

3 Comments

  1. Dwi Sugiarto October 29, 2015
  2. Hendra Suhendra October 29, 2015
  3. Reky Bongso October 30, 2015

Leave a Reply