Mari Belajar Mendengarkan

Kapan terakhir kalinya kamu benar-­benar mendengarkan orang yang mengajakmu berbicara? Apakah kamu juga merasakan bahwa kita semakin banyak dan semakin sering berbicara tentang diri sendiri?

Menurut penelitian, rata-­rata 60 persen dari isi percakapan biasanya kita berbicara tentang diri sendiri. Pada tiap percakapan, kita terlalu sibuk dengan diri sendiri, terlalu banyak bersuara tentang diri sendiri.

Ini sebabnya mengapa media sosial sangat digemari karena tanpa disadari kita senang mengungkapkan hal­-hal yang berkaitan dengan diri sendiri.

Lewat media sosial, kita berlomba untuk bersuara mengungkapkan pendapat, ide, perasaan, serta pengalaman kita. Kita ingin terlihat keren saat berbicara, salah satunya dengan mengungkapkan segala hal tentang diri sendiri.

Kita bersedia mengorbankan waktu dan uang untuk belajar berbicara, berharap bisa dikenang dan bisa meninggalkan kesan yang baik melalui tutur kata kita, syukur­-syukur kalau dianggap sekeren pembicara terkenal di acara TED Talks.

Mengungkapkan diri kepada orang lain memegang peranan penting dalam kehidupan sosial kita sebagai manusia. Namun, bukan berarti kita habiskan sebagian besar durasi percakapan untuk membicarakan diri sendiri. Cobalah ingat, apakah sering kali saat berbicara kita berlebihan dalam mengungkapkan diri sendiri?

Ungkapan diri ini dimulai dari sekadar basa-­basi hingga bicara serius, dari sekadar fondasi menuju perkenalan hingga sampai pada pernikahan. Kita terlalu sering dicekoki pandangan bahwa yang keren adalah yang berani bersuara. Padahal, hal itu tidak sepenuhnya benar.

Menurut penelitian yang dilakukan Universitas Harvard, pada saat kita berbicara mengenai diri sendiri, kondisi otak kita menjadi serupa seperti saat lapar dan kemudian mendapat makanan.

Saat kita berbicara tentang diri sendiri, otak kita bereaksi sama seperti saat kita mendapatkan penghargaan ataupun imbalan. Kita menjadi senang dan ada perasaan puas saat mampu berbicara tentang diri sendiri.

Sayangnya, kepuasan tersebut sekarang merajalela dan menjadi berlebihan karena adanya media sosial yang memfasilitasi. Indikasi ini pun terlihat jelas dengan bertambah maraknya pelatihan public speaking.

Kita dilatih untuk terus-­menerus mendapatkan kepuasan dengan semakin sering berbicara. Bisa kita bayangkan bahwa sebagian besar percakapan di media sosial masa kini dapat dirumuskan menjadi “saya berbicara tentang saya”.

Cobalah ingat, percakapan indah nan berkesan yang pernah kamu alami beberapa waktu yang lalu. Mungkin kamu masih ingat suatu hal yang kamu bicarakan, mungkin juga tidak, tetapi ingatlah perasaanmu saat selesai melakukan percakapan tersebut.

Saat percakapan usai dan kamu merasa bahagia karena percakapan tersebut meninggalkan kesan yang mendalam. Itu berarti kamu telah mendengarkan dengan baik. Sebab, tidak akan ada percakapan yang berkesan jika semua pihak yang terlibat dalam percakapan hanya ingin berbicara mengenai dirinya sendiri.

Dalam sebuah percakapan, agar percakapan menjadi indah nan berkesan, tidak melulu butuh kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan mendengarkan.

Seseorang yang mampu menciptakan percakapan yang indah nan berkesan adalah seseorang yang punya kemampuan untuk mendengarkan.

Banyak acara dan pelatihan yang diadakan untuk mening katkan kemampuan berbicara, tetapi adakah acara ataupun pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mendengarkan?

Seni berbicara itu adalah seni menyampaikan hal­-hal “ke luar diri”. Adapun seni mendengarkan adalah seni memahami diri sendiri, kembali “ke dalam diri”.

Coba ingat-­ingat seni dan gaya hidup apa yang kamu jalani sekarang? Lebih banyak “ke luar diri” ataukah “ke dalam diri”?

Mendengarkan adalah kemampuan tingkat tinggi bagi manusia. Perlu kepekaan dan kebijaksanaan yang baik untuk bisa mendengarkan. Bukankah komunikasi yang baik adalah komunikasi dua arah, tidak hanya satu jalur tanpa jeda?

Semuanya ingin bicara dan terlihat keren, serta ngotot meminta didengarkan. Lalu, siapa yang mau dan mampu mendengarkan? Mendengarkan pun hal penting yang kita butuhkan.

Coba perhatikan, mulut kita satu, telinga kita dua. Secara fisik kita diciptakan untuk lebih banyak mendengar, tetapi perilaku kita masih sibuk untuk bersuara dan berbicara. Kita sering kali lupa untuk mendengarkan.

Semoga keinginan kita untuk didengarkan tidak melemahkan kemampuan kita untuk mendengarkan.

Sumber: Sadar Penuh Hadir utuh, by: Adjie Silarus

Leave a Reply