Mengembalikan Semangat Hidup dengan Downshifting

Spread the love

 

Bicara tentang downshifting, mungkin belum banyak orang tahu mengenai gaya hidup yang satu ini. Secara sederhana, downshifting bisa diartikan pergeseran, kalo dihubungkan dengan kehidupan nyata, mungkin bisa diartikan “mengganti perkerjaan”. untuk apa? Untuk menikmati beberapa keuntungan dari perubahan pekerjaan itu.

Pernahkah Anda merasa jenuh dengan pekerjaan yang berlebih? Mungkin hal ini kerap dialami oleh pekerja kantor di ibu kota, walaupun sebagian lain merasa enjoy dengan pekerjaanyanya.

Awalnya downshifting adalah bentuk protes dari siklus kerja sebagai berikut:

  • (7P) Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-Pasan
  • Ribet diomelin Boss mulu
  • Kerjaan Numpuk ngga ada habisnya
  • Lembur terus, jarang menikmati pulang cepat
  • Terlalu lama di jalan terjebak kemacetan
  • Emosi tingkat tinggi akibat banyak masalah kerjaan
  • Jarang punya waktu untuk keluarga
  • Pekerjaan ngga Sesuai dengan Passion
  • Dan segudang alasan lain tentang mumetnya kerjaan

Targetnya adalah, downshift dilakukan oleh orang yang ingin memiliki waktu lebih untuk menikmati kehidupan. Bekerja sesuai passion, dan punya banyak waktu untuk hal-hal yang disenangi.

Menurut wikipedia, Downshifting is a social behavior or trend in which individuals live simpler lives to escape from the rat race of obsessive materialism and to reduce the “stress, overtime, and psychological expense that may accompany it”.

Downshift sudah banyak dilakukan oleh masyarakat di beberapa negara seperti USA, UK, New Zealand dan Australia.

Escape dari semrawutnya kehidupan di perkotaan, mungkin gitu simpelnya.

Mungkin ada beberapa dari Anda yang berimaginasi tinggal di Gua, beternak bebek, mancing di sungai, berenang di pantai, berburu ubur-ubur, punya rumah di pedesaan atau dekat pantai. Menghirup bersihnya udara pedesaan sambil naik sepeda. Menikmati berbagai macam aktivitas outdoor yang menyenangkan setiap hari.

Terdengar menyenangkan untuk segolongan orang yang jarang piknik kaya saya 😀

Namun begitu, downshifting ada konsekuensinya:

  • income turun drastis
  • spending less money untuk hal yang berbau hiburan kota
  • ngga bisa-beli ini itu
  • less electricity, no kulkas, no TV, no AC
  • ada indikasi bokek

Mungkin karena downshift lebih berorientasi pada menikmati waktu dari pada  menikmati uang. Mungkin downshift juga tidak cocok bagi sebagian orang.

Kadang dengan downshift, dapat melatih rasa syukur. Makan singkong rebus hasil tanam sendiri terasa lebih nikmat. Makan ikan hasil tangkapan sendiri terasa lebih sedap. Minum wedang jahe kebun sendiri serasa lebih joss. Bokek ngga jadi masalah ketika hidup disyukuri dan dinikmati.

Ada yang tertarik untuk memulai downshifting?

2 Comments


  1. “Bekerja sesuai passion, dan punya banyak waktu untuk hal-hal yang disenangi.” Kurang lebih seperti itu cita-cita saya nanti. Kalau bekerja sesuai passion, rasanya bukan seperti kerja tetapi lebih pada menikmati passion tersebut. Lebih nyaman deh pokoknya menurut saya.

    Reply

  2. Jadi blogger aja kalau gitu… gak terikat kontrak dan mempunyai waktu banyak untuk downshifting.
    Update artikel cuman 2 kali, yaitu pagi dan siang/sore. Sisanya nunggu income dan downshifting.. 😀

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.